Sejenak Berhenti…

May 10th, 2008 by imazahra

Teman,

Pernahkah kamu terlibat begitu jauh
pada sepenggal kisah seorang musafir kehidupan?
hingga kemudian emosimu pun menghunjam
dalam rasa bernama:
kepedulian atas nestapa yang maha dalam

Aku pernah
tak hanya sekali
bahkan berkali-kali

Hingga kusadari
semua bukan tanpa rencana Sang Maha Tinggi
‘kebetulan-kebetulan’ yang kukira adalah tetirah sejenak dari hidupku sendiri
sungguh adalah kepastian yang berjentera turun dari petala langit
sebagaimana rencanaNya sejak alam azali

Dan di senja yang lalu
lembaran nestapa itu berulang
Ia rentakkan kabar lewat angin utara
Ia tumpahkan segenap kepahitan jiwa
untuk kupunguti hikmahnya
dari kolam airmata
yang menggenangi sejarah nasibnya

Aku dalam hening
sejenak berhenti:
untukmu…

Kartini dan Sang Surya (lagu TK kita dulu)

May 8th, 2005 by imazahra

Malam ini aku jadi tertarik mengomentari quotation tetangga sebelah si mba SetiaKartini, seandainya dulu presidennya dari Aceh…, pasti hari Cut Nyak Dien

Anyway, yang mengganjal buat saya tentang Kartini-kartinian ini adalah soal penilaian masyarakat terhadap sosok perempuan atau ibu atau istri dalam bentuk real. Menurut saya, masyarakat Indonesia menggunakan standar ganda dalam isu ini. Orang-orang sudah terlalu lama dinina bobokan dengan rekonstruksi ‘perempuan perkasa’ yg bisa segala-galanya, yang dampaknya padahal malah meletakkan perempuan ditubir double burden! Contoh sederhana adalah lagu jaman kita TK dulu:  yang obrolan journalnya menyentil sedikit soal Kartini. Yang menarik adalah komentarnya mas Mbonk, "…karena presiden pertama orang Jawa makanya jadi hari  …". Barangkali memang benar, budaya kita masih sangat kuat feodalismenya, sehingga darimana asal presidennya, maka akan menentukan corak kebijakan, termasuk dalam menentukan siapa yang berhak menyandang gelar sebagai pahlawan emansipasi perempuan. Kalau mau dibahas lebih serius, ini adalah kerja ilmuwan sejarah (dan tentu saja saya sangat tidak berkompeten didalamnya) untuk meneliti lebih awal Cut Nyak Dien atau Kartini kah dalam memulai gerakan women empowerment di Indonesia. Soal heroiknya sih barangkali Kartini masih kalah dengan Cut Nyak Dien jika diukur secara fisik! Namun mereka berdua adalah perempuan-perempuan terbaik pada zamannya yang berani mendobrak keadaan ‘bathil’ menjadi lebih tercerahkan dengan cara mereka masing-masing.

"Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia".

Secara makna sih bagus, lagu ini menggambarkan bahwa ibu adalah sosok perempuan tangguh yang mengabdikan dirinya untuk anak-anaknya atas nama cinta! Yang menjadi masalah kemudian adalah perlambang ibu yg bagai benda alam (dalam hal ini matahari) itu yang tidak pas –bahwa ibu hanya memberi dan tidak butuh menerima! Matahari sebagai makhluk tak bernyawa wajar tidak (mengharap) menerima sesuatu, karena dia tunduk pada hukum alam dan tidak memiliki hati. Sementara ibu, istri atau perempuan adalah makhluk (yang memiliki perasaan) dan tentu saja butuh ‘menerima’ balasan berupa kasih sayang dan penghargaan dari orang yang dikasihinya. Disinilah paradoks-nya ibu, dipuja tapi sekaligus di’intimidasi’ bahkan dalam bahasa kanak-kanak.

Ahli filsafat bahasa (kasus ini meminjam konsepnya Jacques Derrida) berujar, bahwa bahasa atau teks adalah representasi dari kebudayaan, nilai-nilai dan nalar masyarakat yang berlangsung atau dianut kebenarannya. Untuk empowerment masyarakat, maka teks-teks ini perlu dibongkar dan direkonstruksi ulang. Kesulitannya untuk konteks diatas adalah, begitu banyaknya  ungkapan bahasa dan nalar tentang sosok ibu ini yang ambigu dan bermata dua ini, termasuk dalam lagu sederhana yang selalu didendangkan sejak masa kanak kita itu.

Maka, jelang hari Kartini besok, yang perlu kita lakukan adalah membangun kesadaran baru tentang nilai perempuan sebagai manusia, bahwa ia membutuhkan kesempatan dan ruang untuk aktualisasi diri, penghargaan dan cinta sebagaimana makhluk yang bernama laki-laki. Tak hanya sekedar merayakan ritual tahunan lomba masak, bersanggul dan kebaya ala Kartini dan tetek bengek artifisial lainnya. Jika tidak, dalam kuburnya Kartini barangkali akan bersedih karena perjuangannya hanya dimaknai seartifisial itu.

Catatan menjelang shubuh, 20 April 2005

Aku Sakit… Tuhan “Memaksaku” Istirahat!

April 12th, 2005 by imazahra

Dear sahabat dimana saja…

Tanggal 4 - 5 April lalu saya diopname di St. James Hospital karena sudah tiga malam sebelumnya saya menderita demam sangat tinggi hingga 40 derajat celcius. Malam itu saya dijemput ambulance karena fisik saya sangat lemah. Fortunatelly saat itu saya ditemani oleh Mba Ningrum, Alhamdulillaah. Setiba di RS, mereka meng X-Ray dan Blood test dua kali. Namun pagi harinya, ketika consultation dan saya didatangi dokter senior, dia bilang saya tidak apa-apa, hanya infeksi berat di throat saya. Jadi saya cuma butuh istirahat di rumah dua hari.

Dengan rasa masygul yg berkepanjangan, saya tanyakan bagaimana dengan rasa sakit di perut saya dan bentol-bentol berisi air yang mulai menyebar di wajah, perut dan punggung? Dr. tua itu bilang bahwa bentol-bentol itu semata-mata karena beratnya infeksi yang saya derita. That’s it! Saya rasanya kesal bukan main, disuruh pulang hanya dengan hasil diagnose seperti itu dan dibekali seratus biji paracetamol!

Malamnya setiba di rumah (5 April 2005), saya berdiskusi dengan Angela teman saya dari Taiwan, dia sedang mengambil PHD.nya di bidang nursery for elderly people, dia bilang dan teman Indonesia lainnya bilang (Nita dan Angela berdua ini baik sekali, mereka yang memasakkan bubur dll  untuk saya setiap hari, *terharu mode on*), saya kelihatannya terkena Chicken Pox or Cacar Air. Wah…, langsung muncul ‘ide gila’ di kepala saya, untuk memastikan penyakit yg saya derita saat ini! Saya meminta mb’ Nita memotret saya dibeberapa sisi dan hasilnya dikirimkan ke Pak Nelson Chin di London dan ipar saya yang juga Dr. di Kalimantan Selatan, ternyata menurut mereka berdua hasilnya adalah CACAR AIR. Dengan sigap mereka berdua menuliskan resep Aciclovir tablet dan salep untuk saya, hanya yang menjadi masalah, disini kita tidak bisa membeli obat tanpa prescription!

Duuuuuuuuh temans, kebangetan banget kan rasanya, dokter2 Inggris ternyata enggak tahu cacar air. Akhirnya dengan rasa dongkol yang masih membekas di hati, atas saran ipar dan Pak Nelson, saya pergi ke GP (istilah utk dr. umum di UK sini) utk memastikan ini Chicken Pox dan "memaksa" agar diberi Aciclovir. Menurut 2 dr. Indonesia itu, cacar air di adult itu lebih kuat dan jika tidak "dibom", virus akan bersembunyi di saraf dan dampaknya akan berbahaya untuk tulang2 saya. Duh, saya lupa istilah kedokterannya.

Sesampai di GP, dia tersenyum dan bilang kalo ini memang Chicken Pox dan saya adalah orang ke 6 dalam minggu2 ini yg menderita ini. Oh my God, rupanya di UK pun ada musim cacar airnya :-(

Yang saya sedihkan, Aciclovir yg saya dapatkan dosisnya tidak sesuai dengan anjuran dosis yg diberikan oleh Pak Nelson dan ipar saya, yaitu 400mg. Dr. disini hanya memberikan saya 200mg. It such another problem again!!! Pusing saya sekarang, mana physically saya masih lemah banget dan cacar masih bermunculan dimana2 sampe hari ini dan saya butuh recovery sekitar 2 minggu, obatnya sendiri dosisnya ternyata tak sesuai. Mungkin saya harus kembali ke GP atau "lari" ke Private Hospital saja ya?

So sahabat semua, tolong do’anya semoga saya bisa segera ‘recovery’ dan kembali beraktifitas seperti biasa :-)

Ima yang masih terkapar!